Minggu, 01 April 2012

AKU RINDU

Aku rindu zaman ketika halaqoh adalah keperluan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan …

Aku rindu zaman ketika mambina adalah kewajiban
bukan pilihan apalagi beban dan paksaan …

Aku rindu zaman ketika dauroh menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelangkap pengisi program yang dipaksakan …

Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan …

Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan,
bukan tuntutan, hujatan dan obyekan….

Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan
bukan su’udzon atau menjatuhkan …

Aku rindu zaman ketika kita semua
memberikan segalanya untuk da’wah ini …

Aku Rindu zaman ketika nasyid ghuroba
manjadi lagu kebangsaan…

Aku rindu zaman ketika hadir liqo adalah kerinduan
dan terlambat adalah kelalaian …

Aku rindu zaman ketika malam gerimis
pergi ke puncak mengisi dauroh
dengan uang yang cukup2
dan peta tak jelas …

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah
benar-benar berjalan kaki 2 jam
di malam buta sepulang tabligh da’wah di desa sebelah …

Aku rindu zaman ketika pergi liqo
selalu membawa infaq, alat tulis, buku catatan
dan qur’an terjemah ditambah sedikit hafalan …

Aku rindu zaman ketika binaan menangis
karena tak bisa hadir di liqo …

Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu diketuk
untuk mendapat berita kumpul di subuh harinya …

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah
berangkat liqo dengan wang belanja esok hari untuk keluarganya …

Aku rindu zaman ketika seorang murobbi
sakit dan harus dirawat,
para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya …

Aku rindu zaman itu …

Ya Rabb …
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami …

Ya Rabb …
Berikanlah kami keistiqomahan di jalan da’wah ini …

KH RAHMAT ABDULLAH

kumpulan motivasi by alm. Ust KH Rahmat Abdullah

KH. Rahmat Abdullah
"Tentukanlah di mana posisimu ; penonton yang mencari hiburan, penunggu yang tak punya empati, atau pengharap kegagalan karena ada yang tak sejalan dengan persepsi mereka. Atau penuntun dan pengikut dengan pengenalan sistem navigasi yang akurat dan keyakinan yang mantap, bahwa laut tetap bergelombang dan di seberang ada pantai harapan." (Alm Ust Rahmat Abdullah)..
"Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu." (alm KH. Rahmat Abdullah)
Merendahlah,
Engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau dipandang orang
Diatas
riak air dan sang bintang nun jauh tinggi

Janganlah seperti asap,

yang mengangkat diri tinggi dilangit
Padahal dirinya rendah-hina....

( KH. Rahmat Abdullah)

Senin, 05 Desember 2011

sains sederhana untuk anak usia dini

Sains adalah produk dan proses. Sebagai produk, sains adalah pengetahuan yang terorganisir dengan baik mengenai dunia fisik alami. Sebagai proses, sains mencakup kegiatan menelusuri, mengamati dan melakukan percobaan. Kegiatan bermain sains sangat penting diberikan untuk anak usia dini karena multi manfaat, yakni dapat mengembangkan kemampuan:

Eksplorasi dan investigasi, yaitu kegiatan untuk mengamati dan menyelidiki objek serta fenomena alam
Mengembangkan ketrampilan proses sains dasar, seperti melakukan pengamatan, mengukur, mengkomunikasikan hasil pengamatan, dan sebagainya.
Mengembangkan rasa ingin tahu, rasa senang dan mau melakukan kegiatan inkuiri atau penemuan.
Memahami pengetahuan tentang berbagai benda baik ciri, struktur maupun fungsinya.
Berikut ini disajikan contoh kegiatan sains untuk anak usia dini:

Bidang Pengembangan : kemampuan dasar kognitif

Tingkat Capaian Perkembangan : siswa dapat mengenal berbagai konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari

Capaian Perkembangan : siswa dapat mengenal konsep sains sederhana

Jenis Kegiatan:

1. Penggabungan Warna

Indikator

Siswa dapat membedakan warna primer (merah, kuning, biru)
Siswa dapat menyebutkan warna baru hasil penggabungan (warna sekunder)
Siswa dapat member contoh benda yang berwarna merah, kuning, biru, hijau, oranye dan ungu
Alat dan bahan:

Plastik mika berwarna merah, kuning dan biru
Kertas HVS putih
Steples
Cara kerja:

Letakkan kertas HVS putih di atas meja dan tempelkan mika kuning di atas kertas HVS. Kemudian tempelkan mika biru di atas mika kuning. Apa yang terjadi?
Dengan langkah sama, tempelkan mika merah di atas mika kuning. Apa yang terjadi?
Sekarang, tempelkan mika merah di atas mika biru. Apa yang terjadi?
2. Penggabungan Warna

Indikator:

Siswa dapat membedakan warna primer (merah, kuning, biru)
Siswa dapat menyebutkan warna baru hasil penggabungan (warna sekunder)
Siswa dapat member contoh benda yang berwarna merah, kuning, biru, hijau, oranye dan ungu
Alat dan bahan:

Gelas aqua (9 buah), Air, Pewarna makanan merah, kuning, biru

Cara kerja:

Isi 3 gelas aqua dengan air bening (tidak berwarna)
Teteskan pewarna merah ke dalam gelas pertama, kuning ke dalam gelas kedua dan biru ke dalam gelas ketiga. Apa yang terjadi?
Bagilah cairan berwarna merah, kuning dan biru tadi masing-masing menjadi tiga.
Campukan cairan merah dengan kuning, apa yang terjadi?
Campurkan cairan merah dengan biru, apa yang terjadi?
Campurkan cairan kuning dengan biru, apa yang terjadi?
Konsep

Warna primer : warna dasar, yaitu merah, kuning, biru

Warna sekunder : hasil pencampuran warna primer

Merah + kuning = oranye
Merah + biru = ungu
Kuning + biru = hijau
3. Magnet

Indikator:

Siswa dapat membedakan benda yang disebut magnet dan benda bukan magnet
Siswa dapat membedakan benda-benda yang dapat ditarik oleh magnet dan yang tidak dapat ditarik magnet.
Alat dan bahan :

Magnet, Penggaris, Gunting, Permen, Pensil, Kertas, Peniti, Paku kecil, Klip Kertas, Penghapus

Cara kerja

Dekatkan magnet dengan benda-benda di atas satu per satu sambil berteriak “Kamu kena…..”
Amati apa yang terjadi? Jika benda tidak dapat ditarik magnet, semua berteriak “Huuuu……”
4. Sulap Bunga

Indikator:

Siswa dapat mengenal salah satu sifat air, yaitu dapat masuk ke dalam pori-pori yang halus
Alat dan bahan:

Kertas marmer, Pensil warna atau krayon, Gunting, Mangkok yang bagian mulutnya lebar, Air

Cara kerja

Gambarlah pola bunga pada kertas marmer seperti gambar di bawah, kemudian warnai.
Guntinglah bagian tepinya.
Lipatlah “mahkota bunga” sehingga seperti bunga yang sedang kuncup.
Isilah air ke wadah mangkok hingga tiga per empat
Letakkan bunga teratai kertasmu secara perlahan di atas permukaan air. Perlahan tetapi pasti, bunga terataimu akan mekar.
Konsep

Kertas memiliki pori-pori yang sangat halus yang terletak di antara serat kertas sehingga tidak terlihat oleh mata kita.
Air memiliki kemampuan masuk ke pori-pori kertas. Kemampuan ini disebut daya kapilaritas.
Masuknya air ke pori-pori kertas menyebabkan serat kertas mengembang termasuk bagian lipatan kertas. Inilah yang menyebabkan bunga terataimu menjadi mekar.
5. Kapur Barus Lompat

Indikator:

Siswa dapat mengenal posisi benda dalam air (tenggelam, terapung, melayang)
Alat dan bahan:

Kapur barus berbentuk bola, Cuka, Soda kue, Air, Botol selai, Sendok

Cara kerja :

Isilah botol selai dengan air hingga tiga per empat bagian.
Tuangkan dua sendok cuka dan dua sendok soda kue, kemudian aduk sampai merata.
Ketuk-ketukkan kapur barus ke meja sehingga permukaannya yang halus menjadi kasar.
Masukkan kapur barus ke dalam botol selai. Apa yang terjadi?
Konsep

Pertama kali kapur barus akan tenggelam karena lebih berat dibandingkan air. Kemudian akan tampak gelembung-gelembung di permukaan kapur barus. Gelembung tersebut adalah gas karbon dioksida yang dihasilkan larutan campuran cuka dan soda kue. Sifat gas karbon dioksida adalah lebih ringan dibandingkan air. Karena gas ini menempel pada kapur barus, maka kapur barus akan tampak seperti berlompatan.

6. Telur Ajaib

Indikator:

Siswa dapat mengenal posisi benda dalam air (tenggelam, terapung, melayang)
Alat dan bahan:

Telur ayam mentah, Air, Garam, Gelas kaca bening

Cara kerja:

Isilah gelas dengan air hingga tiga per empat bagian.
Masukkan telur, tomat dan wortel ke dalam gelas. Apa yang terjadi?
Masukkan garam ke dalam gelas. Apa yang terjadi?
Konsep

Telur di dalam air akan tenggelam karena telur lebih berat dari pada air.

Telur di dalam larutan garam akan melayang karena telur sama berat dengan larutan garam.

7. Paru-paru Plastik

Indikator:

Siswa dapat mengenal cara kerja paru-paru (bernafas)
Siswa dapat mempraktikkan gerakan nmenarik nafas dan membuang nafas
Alat dan bahan:

Botol air mineral bekas, Sedotan, Balon karet, Pisau kertas, Lilin mainan, Double tip

Cara kerja:

Potonglah bagian tengah botol plastik.
Ikatkan sebuah balon di salah satu ujung sedotan, kemudian lingkari mulut botol dengan lilin mainan.
Masukkan sedotan melalui mulut botol dan gunakan lilin untuk menutup sela-selanya.
Potonglah balon kedua, kemudian pasang menutupi dasar botol. Paru-paru plastic sudah jadi.
Jika balon di dasar botol ditarik, balon di dalam botol akan mengembang.
Jika balon di dasar botol dilepaskan, balon di dalam botol akan mengempis.
8. Cetakan Daun Gugur

Indikator :

Siswa dapat membedakan bermacam-macam bentuk daun (…… macam)
Siswa dapat menyebutkan bentuk daun (melebar, memanjang, menjari)
Siswa dapat menyebutkan warna daun
Alat dan bahan:

Berbagai bentuk daun-daun gugur, Alumunium foil tipis, Penghapus, Karton, Lem

Cara kerja:

Letakkan daun-daun dengan rata di atas meja.
Tutupi tiap helai daun dengan alumunium foil tipis.
Gosok-gosokkan penghapus maju mundur secara perlahan alufoil sampai motif daun tercetak di sana.
Untuk memajangnya, rekatkan tiap alufoil bermotif daun pada kertas karton, dan rekatkan daun di sebelahnya.
Sumber Bacaan:

Abadi Prayitno, Amelia Piliang. 2009. Yuk, Bermain Sains Bersama Ayah dan Ibu. Jakarta. Dian Rakyat.
Charner Kathy, et.al. 2005. Brain Power: Aktivitas Berbasis Minat Anak (terj.). Erlangga for Kids.
Yulianti, D. 2010. Bermain Sambil Belajar Sains di Taman Kanak-kanak. Jakarta. Indeks.

Dibalik Gurihnya Mie Instan

Mie instan, siapa sih yang tidak doyan ? Malah sebagian orang keranjingan dengan jenis makanan ini. Ada yang kalau tidak makan mie seminggu saja rasanya kangen berat. Ada yang menyediakannya sebagai pintu darurat kalau lagi tidak sempat memasak. Bahkan para anak kost menjadikan mie instan sebagai makanan kebangsaan. Anak-anak pun, kalau tidak suka mie pasti punya kelainan selera. Coba tanya para ibu tentang hal ini.

Hampir tiap hari anak saya minta mie. Kalau saya menolak, dia bisa bikin sendiri. Sebulan bisa satu kardus habis,? tutur Ibu Tia yang anaknya sudah berusia 10 tahun.
Saya pernah ditegur tetangga gara-gara mie. Anak saya menangis kenceeng banget. Pagi dia sudah makan mie. Siang minta mie lagi. Tentu saja saya tolak. Tetangga saya datang dengar tangisannya. Waktu dia tahu masalahnya, dia ngomelin saya, kenapa tidak dikasih saja, kasihan anak sampai nangis begitu. Saya jadi serba salah, kata orang mie instan tidak baik untuk kesehatan anak, tapi anak saya doyan banget….? Bu Ririn, ibu dari Ama yang baru berusia 2 tahun bercerita.
Anak saya susah makan. Kalau makan bisa sampai satu jam. Tapi kalau mie, wah…lahap banget. Tak sampai sepuluh menit habis deh,? Mama Ano menceritakan kebiasaan makan anaknya yang baru lima tahun.
Cerita ibu-ibu lain tentu tak kalah seru. Tapi memang, mie instan enak. Harganya juga murah. Rasanya beraneka ragam tinggal pilih. Berbagai merek baru juga terus bermunculan, menantang untuk dicoba. Namun masalahnya, bagaimana status kehalalan dan keamanannya bagi kita ?

Titik Kritis di Seluruh Bahan
Titik kritis kehalalan pada mie instan terletak pada semua bahan yang digunakannya. Kok bisa? Tepung terigu, minyak goreng, bumbu-bumbu kan halal? Belum tentu. Tepung terigu pun bisa tercemar bahan haram. Saat ini tepung terigu difortifikasi (diperkaya) dengan vitamin, sedangkan vitamin sifatnya banyak yang tidak stabil sehingga harus dicoating (dilapisi). Salah satu bahan pelapis yang harus diwaspadai adalah gelatin, yang kemungkinan berasal dari babi. Selain itu sumber vitamin juga harus jelas, apakah berasal dari hewan, tumbuhan atau mikroorganisme.

Bahan-bahan lain yang harus diwaspadai adalah :

Bumbu dan pelengkap
Bumbu yang digunakan antara lain adalah MSG atau vetsin. Titik kritisnya adalah pada media mikrobial, yaitu media yang digunakan untuk mengembangbiakkan mikroorganisme yang berfungsi memfermentasi bahan baku vetsin. Sedangkan bahan pelengkap mie instan adalah bahan-bahan penggurih yaitu HVP dan yeast extract. HVP atau hidrolized vegetable protein merupakan jenis protein yang dihidrolisasi dengan asam klorida ataupun dengan enzim. Sumber enzim inilah yang harus kita pertanyakan apakah berasal dari hewan, tumbuhan atau mikroorganisme. Kalau hewan tentu harus jelas hewan apa dan bagaimana penyembelihannya. Sedangkan yeast extract yang menjadi titik kritis adalah asam amino yang berasal dari hewan.

2. Bahan penambah rasa

Bahan penambah rasa atau flavor selalu digunakan dalam pembuatan mie instan. Bahan inilah yang akan memberi rasa mie, apakah ayam bawang, ayam panggang, kari ayam, soto ayam, baso, barbequ, dan sebagainya. Titik kritis flavor terletak pada sumber flavor. Kalau sumber flavor dari hewan, tentu harus jelas jenis dan cara penyembelihannya. Begitupun flavor yang berasal dari rambut atau bagian lain dari tubuh manusia, statusnya adalah haram.

3. Minyak sayur

Minyak sayur menjadi bermasalah bila sumbernya berasal dari hewan atau dicampur dengan lemak hewan.

4. Solid Ingredient

Solid ingredient adalah bahan-bahan pelengkap yang dapat berupa sosis, suwiran ayam, bawang goreng, cabe kering, dan sebagainya. Titik kritisnya tentu pada sumber hewani yang digunakan.

5. Kecap dan sambal

Kecap dan sambal pun harus kita cermati lho. Kecap dapat menggunakan flavor, MSG, kaldu tulang untuk menambah kelezatannya. Sementara sambal menggunakan emulsifier untuk menstabilkan campurannya. Emulsifier dapat berasal dari sumber hewani yang harus kita ketahui dengan jelas.

Amankah Mengkonsumsi Mie Instan ?

Selama mie instan tersebut sudah mendapat izin dari Depkes, tentulah aman. Namun bila dikonsumsi setiap hari, apalagi oleh anak-anak, inilah yang menjadi masalah.

Sebagaimana makanan instan produk industri lainnya, mie instan menggunakan banyak sekali bahan-bahan kimia. Pewarna, pengawet, dan penyedap harus kita waspadai dalam hal ini. Sekalipun aman, namun bila terus menerus kita konsumsi dalam frekuensi sering dan dalam jangka waktu lama, bahan-bahan kimia dapat terakumulasi dalam tubuh. Efeknya tentu akan mengganggu sistem metabolisme, karena bahan kimia, bagaimana pun adalah racun bagi tubuh.

Selain itu, terlalu sering makan mie instan juga dapat mengganggu masukan gizi, terutama anak-anak. Kita memang dapat menambahkan telur dan sayuran sehingga kualitas gizi mie instan tidak kalah dengan seporsi nasi komplet. Namun rasa mie yang terlalu gurih, dapat merusak selera makan anak. Lidah mereka yang sedang belajar mengidentifikasi rasa, akan terpola dengan rasa gurih yang tajam dari MSG dan flavor mie. Akibatnya mereka menganggap masakan ibu yang umumnya tidak terlalu banyak menggunakan MSG hambar. Selera makan mereka pun hilang. Akhirnya, mau mie lagi, mie lagi….

Karena itulah, biar enak, kita tetap harus mampu mengontrol diri. Jangan terlalu sering mengkonsumsi mie instan, apalagi memberikan ke anak-anak. Sesekali silakan, apalagi saat-saat cuaca dingin.

Sumber : http://zigma.wordpress.com/2006/12/19/di-balik-gurihnya-mie-instan/

Minggu, 05 Juni 2011

How do I evaluate a preschool?

There are some obvious and not-so-obvious things you should look for when you're evaluating a preschool for your child. Before going into some of the details, I feel there's an underlying principle you should keep in mind:
There is very little correlation between how much a preschool charges for its services and how good a job it does at caring for and teaching your child.

Of course, the more expensive preschools may be in fancier buildings and have newer toys. But the two most important things in a preschool—the educational approach and the quality of the teachers—have nothing to do with fancy buildings, private playgrounds and brand-new computers. (Of course, one of the things that drives good teachers out of early education is the low salaries. I'd much rather see a school that invests its money in teachers than in décor.)

Here are some specific things you should look for when deciding whether a preschool is right for your child:

How open is the preschool to visitors? This is a two-sided question. Preschools and kindergartens should welcome visitors—especially parents of prospective students—at all times. If the director of a preschool is hesitant to have you drop by, don't bother. That school isn't worth considering.

At the same time, you should check the security of the school. What procedures do they take to prevent someone you haven't authorized from leaving with your child at the end of the day? Many preschools insist that you write down the names and addresses of anyone who might pick up your child in your stead. They'll ask for positive identification from anyone they're not used to seeing at the end of the day.

Note: While parents sometimes worry about a stranger kidnapping their child, the vast majority of kidnappings of children this age are perpetrated by adults the child knows well, such as a divorced parent's ex-spouse. That's why preschools and child care providers are reluctant to hand over a child to someone they don't know, even if that child is yelling, "Daddy! Daddy!"

Ideally, you should visit a preschool you're considering at least twice: once in the morning when parents are dropping off their children and again at the end of the day when parents are picking them up. Observe how the children and the teachers handle those transitions. (See The Preschool End-of-Day Frenzy for more about this.)

The morning transition should not be chaotic. While the atmosphere may be charged with excitement, the children should know what's expected of them, such as putting their coats in their cubbies or asking for help with their boots. The teachers should greet each new arrival by name. They should be paying special attention to those children (and parents) who are having trouble separating.

Stick around to see how the children move into morning activities. Again, it should be orderly but not rigid. The children should have some choices of what to do during the morning, within constraints set by the teachers. Watch how a teacher handles a problem, such as a child who doesn't want to sit with the rest of the group while a story is being read. Ask yourself if that's how you would like your child to be treated.

Look into safety issues. Are there smoke detectors in every room? Are there emergency phone numbers, such as the local poison-control center, posted by every telephone. Are the cabinets containing possible poisons, such as cleaning fluids, locked? Are there caps on the electrical outlets? Are the fire exits open or blocked? Ask to see the first-aid kit to find out if it's well-stocked or a mere shadow of what it should be. Look around to see if anyone—including a visiting parent—is smoking. (A ban on smoking in and around a preschool should be strictly enforced, for reasons of both health and safety.)

Ask to look at the written procedures for fire drills, actual fires, injuries, and missing children. Each of these should be in writing and available to you. If they're not, don't consider the preschool. You don't want teachers and administrators trying to figure out what to do in the heat of a crisis.

Look for symbols of respect for the children. For example, are the classroom decorations up-to-date? If it's February, and Christmas decorations are still up, that's a bad sign. Also, at what height are the decorative posters and children's artwork hung on the walls? Many if not most of them should be a your child's eye level, not yours.

Take a look at the floor plan of the classroom. Ideally, it should be divided into spaces that act as the functional equivalents of areas of a home. The dividers need not and probably should not be walls. They can even be stripes on the floor.

There should be a specified area that acts like a kitchen, where children can play with water, paint, clay, and other potentially messy things. There should be a "family room," where children can gather around a teacher and listen to a story. There should be a library area, where books and puzzles are stored. There should be a "pretend space," in which children can use props and bits of costumes to help them imagine that they're someone else. There should be a bathroom, ideally with child-size toilets and small, low sinks so that children don't have to balance precariously on boxes or step stools. Finally, there should be a quiet area, where a child who's upset or who simply wants to be alone to look at a picture book or put together a puzzle can go without being disturbed.

Some centers go well beyond this, offering everything from computer laboratories to make-believe kitchens. Just remember that while the room setup should be flexible, there should be predictable and defined spaces assigned to specific activities.

Get references. Don't just ask for the names of a few parents. The teacher or center director will naturally try to put you in touch with those parents who are the happiest. Instead, ask for a list of all the parents of children in what will be your child's classroom. While you need not call them all, you're more likely to get a diversity of opinions—both compliments and brickbats—if you select people at random from the whole list.

Talk to at least three parents of different children. Explain that you're considering the center for your child and would like their general opinion of it. Then ask some specific questions: How useful is the information they get about their children from the teachers? How often do teachers leave the school for other jobs? (If this school is having more trouble with this than other schools in your city, that's a sign of a larger problem.) Ask how responsive the teachers and the director have been to suggestions and complaints by parents.

Find out if other parents have removed their children from the school recently. You may wish to contact these parents to find out if the reason had to do with something going on at the preschool.

Finally, trust your instincts. You may sense that something wrong or that this isn't the right place for your child. You may also feel that it's a good match, even though some of the parents you speak to have unanswered complaints about the school. You should believe those gut feelings. They're usually pretty accurate, even if you can't put your underlying reasons into words.(http://www.drkutner.com/parenting/articles/eval_preschool.html)

kado cerita untuk ibu

Ibu,
ijinkan aku bercerita
tentang apa yang aku lihat di dalam hatimu

di sana ada pelukan yang menghapus rasa sakitku

ada senyuman yang mengusir rasa takutku

ada usapan yang menyembuhkan lukaku

ada jemari yang menguatkan langkahku

ada ciuman yang membuat tidurku nyenyak

juga ada do'a tulus yang mengiringi aku tumbuh


Ibu,
maafkan aku

mulutku sering membantahmu

polahku membuat jantungmu berdetak kencang

dan setiap hari aku terus menambah lelahmu


aku memang tak pernah dapat menghitung cintamu

aku juga tak mampu membalas jasamu

tapi aku selalu menggenggam Ibu di dalam do'a

semoga Tuhan selalu menjaga dan menyayangi Ibu...

for my children

bukan harus pandai berhitung & membaca
tidak pula mesti jadi juara
pada tiap lomba yang kau ikuti

tetapi ketika tangan mungilmu terulur
menolong kawan yang kesulitan
dan saat mulutmu berujar
menghibur temanmu yang bersedih
(walau kata-katamu belumlah jelas )

itulah saat kami bersyukur & bangga
karena hatimu terisi dengan ketulusan
Semoga.. suatu hari nanti kau mengerti
ketulusan itu akan jadi sandaran berharga
bagimu.. dan bagi dunia di sekelilingmu